Jamu Mata : Muslimah Attires
Tuesday, April 26, 2011
Kisah Imam Hassan Al-Banna
Monday, March 14, 2011
Wanita Syurga Idaman Hati

Isteri-isteri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Syurga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.
Di antara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :
01Bertakwa
02Beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan takdir yang baik dan buruk
03Bersaksi bahawa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu
04Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah dan dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.
05Ikhlas beribadah kerana Allah, tawakkal, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap azab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.
06Gemar membaca Al Qur'an dan berusaha memahaminya, berzikir mengingat Allah ketika sendirian atau tidak dan berdoa kepada Allah semata
07Menghidupkan amar ma'ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.
08Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap haiwan ternak yang dia miliki
09Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang menzaliminya.
10Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia
11Adil dalam segala perkara terhadap seluruh makhluk
12Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah)
13Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.
14Berbakti kepada kedua orang tua
15Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh
Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Syurga yang kami sadur dari kitab Majmu' Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Syurga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
" ... dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar." (An Nisa' : 13)
Sunday, March 13, 2011
Syeikh Said Hawa dan Ummu Muhammad

Tuesday, February 15, 2011
Cintailah.. Sayangilah.. Rinduilah
Monday, February 14, 2011
Tatkala Rasulullah Wafat
Salam'alaik buat semua.InsyaAllah selesa depan bertarikh 12 Rabiulawal dimana buat umat islam ia amat bermakna . Siapa Rasulullah dihati kita...
Tatkala Rasulullah Wafat
Mohon dibaca perlahan-lahan sampai habis.
DIRIWAYATKAN dalam salah satu hadis, bahwa surah Al Maa'idah ayat 3 diturunkan sesudah waktu asar, hari Jumaat di padang Arafah, pada musim haji penghabisan [Wada*]. Saat itu Rasulullah s.a.w. berada di Arafah, duduk di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah s.a.w. tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut.
Kemudian Rasulullah s.a.w. bersandar pada untanya. Untak lalududuk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril a.s. dan berkata: "Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan agamamu. Maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t. dan demikian juga apa yang terlarang oleh-Nya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu. Beritahu mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu."
Begitu Malaikat Jibril a.s. pergi, Rasulullah s.a.w. pun berangkat ke Mekah, terus ke Madinah. Setelah Rasulullah s.a.w. mengumpulkan para sahabatnya, ia menceritakan apa yang telah dialaminya. Saat para sahabat mendengar hal yang demikian mereka pun gembira: "Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna."
Abu Bakar r.a. berbeda reaksinya. Ia tidak dapat menahan kesedihannya. Ia lalu kembali ke rumah, lalu mengunci pintu, dan menangis sekuat-kuatnya, dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar r.a. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain. Maka berkumpulah para sahabat di hadapan rumah Abu Bakar r.a. "Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Sepatutnya kamu berasa gembira sebab agama kita telah sempurna."
Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar r.a. pun berkata: "Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu. Tidakkah kamu tahu bahwa apabila sesuatu perkara itu telah sempurna maka akan kelihatanlah kekurangannya. Turunnya ayat tersebut hanya menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah s.a.w. Hasan dan Husin menjadi yatim. Para isteri nabi menjadi janda."
Setelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar r.a. maka sedarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar r.a., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka didengar para sahabat yang lain. Maka mereka pun memberitahu Rasulullah s.a.w. tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat: "Ya Rasulullah s.a.w., kami baru balik dari rumah Abu Bakar r.a. Kami mendapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di hadapan rumah beliau."
Saat Rasulullah s.a.w. mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah s.a.w. dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar r.a.. Begitu Rasulullah s.a.w. sampai di rumah Abu Bakar r.a. maka Rasulullah s.a.w. melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya: "Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?" Kemudian Ali r.a. berkata: "Ya Rasulullah s.a.w., Abu Bakar r.a. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat.
Adakah ini benar ya Rasulullah?." Lalu Rasulullah s.a.w. berkata: "Semua yang dikata oleh Abu Bakar r.a. adalah benar, dan sesungguhnya masa untuk aku meninggalkan kamu semua telah hampir dekat." Begitu Abu Bakar r.a. mendengar pengakuan Rasulullah s.a.w., maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pengsan, sementara Ali r.a. pula mengeletar seluruh tubuhnya.
Dan para sahabat yang lain menangis dengan sekuat-kuat yang mereka mampu. Sehingga gunung-gunung, batu-batu, semua malaikat yang di langit, cacing-cacing dan semua binatang baik yang di darat maupun yang di laut turut menangis. Kemudian Rasulullullah s.a.w. bersalam dengan para sahabat satu demi satu dan berwasiat kepada mereka.
Kisah Rasulullah s.a.w. mengalami hidup selepas turunnya ayat tersebut, ada yang mengatakan 81 hari, ada pula yang mengatakan beliau hidup sehingga 50 hari selepas turunnya ayat tersebut, ada pula yang mengatakan beliau hidup selama 35 hari dari ayat tersebut diturunkan dan ada pula yang mengatakan 21 hari. Pada saat sudah dekat ajal Rasulullah s.a.w., beliau menyuruh Bilal azan untuk mengerjakan shalat, lalu berkumpul para Muhajirin dan Anshar di masjid Rasulullah s.a.w.. Kemudian Rasulullah s.a.w. menunaikan shalat dua raka'at bersama semua yang hadir.
Setelah selesai mengerjakan shalat beliau bangun dan naik ke atas mimbar dan berkata: "Alhamdulillah, wahai para muslimin, sesungguhnya saya adalah seorang nabi yang diutus dan mengajak orang kepada jalan Allah dengan izinnya. Dan saya ini adalah sebagai saudara kandung kamu, yang kasih sayang pada kamu semua seperti seorang ayah. Oleh itu kalau ada sesiapa yang mempunyai hak untuk menuntut, maka hendaklah ia bangun dan membalasi saya sebelum saya dituntut di hari kiamat."
Rasulullah s.a.w. berkata demikian sebanyak 3 kali kemudian bangunlah seorang lelaki yang bernama 'Ukasyah bin Muhshan dan berkata: "Demi ayahku dan ibuku ya Rasulullah s.a.w., kalau anda tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali sudah tentu saya tidak mau mengemukakan hal ini."
Lalu 'Ukasyah berkata lagi: "Sesungguhnya dalam Perang Badar saya bersamamu ya Rasulullah, pada masa itu saya mengikuti unta anda dari belakang,setelah dekat saya pun turun menghampiri anda dengan tujuan supaya saya dapat mencium paha anda, tetapi anda telah mengambil tongkat dan memukul unta anda untuk berjalan cepat, yang mana pada masa itu saya pun anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu sama anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta tersebut."
Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai 'Ukasyah, Rasulullah s.a.w. sengaja memukul kamu." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal r.a.: "Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkat aku ke mari." Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fatimah sambil meletakkan tangannya di alas kepala dengan berkata: "Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas [diqishash]." Setelah Bilal sampai di rumah Fatimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu.
Kemudian Fatimah r.a. menyahut dengan berkata: "Siapakah di pintu?." Lalu Bilal r.a. berkata: "Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. untuk mengambil tongkat beliau." Kemudian Fatimah r.a. berkata: "Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya." Berkata Bilal r.a.: "Wahai Fatimah, Rasulullah s.a.w. telah menyediakan dirinya untuk diqishash."
Bertanya Fatimah. r.a. lagi: "Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah s.a.w.?." Bilal r.a. tidak menjawab pertanyaan Falimah r.a., begitu Fatimah r.a. memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah s.a.w. Setelah Rasulullah s.a.w. menerima tongkat tersebut dari Bilal r.a. maka beliau pun menyerahkan kepada 'Ukasyah. Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. tampil ke hadapan sambil berkata: "Wahai 'Ukasyah, janganlah kamu qishash baginda s.a.w. tetapi kamu qishashlah kami berdua."
Saat Rasulullah s.a.w. mendengar kata-kata Abu Bakar r.a. dan Umar r.a maka dengan segera beliau berkata: "Wahai Abu Bakar, Umar, duduklah kamu berdua sesungguhnya Allah s.w.t. telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua." Kemudian Ali r.a. bangun, lalu berkata: "Wahai "Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah s.a.w.oleh itu kamu pukulah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah s.a.w."
Lalu Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai Ali, duduklah kamu sesungguhnya Allah s.w.t. telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu." Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata: "Wahai 'Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah s.a.w., kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah s.a.w."
Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai buah hatiku, duduklah kamu berdua." Berkata Rasulullah s.a.w. "Wahai 'Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul." Kemudian 'Ukasyah berkata: "Ya Rasulullah s.a.w., anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju." Maka Rasulullah s.a.w. pun membuka baju, begitu Rasulullah s.a.w. membuka baju maka menangislah semua yang hadir.
Begitu 'Ukasyah melihat tubuh badan Rasulullah s.a.w. maka ia pun mencium beliau dan berkata; "Saya tebus anda dengan jiwa saya, ya Rasulullah s.a.w. siapakah yang sanggup memukul anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya hendak menyentuh badan anda yang dimuliakan oleh Allah s.w.t dengan badan saya. Dan Allah s.w.t. menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata: "Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya." Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu.
Setelah itu para jemaah pun berkata: "Wahai 'Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi darjat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah s.a.w. di dalam syurga." Saat ajal Rasulullah s.a.w. makin hampir maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah r.a.
Beliau berkata: "Selamat datang kamu semua semoga Allah s.w.t. mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah s.w.t dan menempatkannya di syurga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya.''
Kata Rasul selanjutnya, ''Setelah itu kamu kapanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kapanilah aku dengan kain yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan menshalatkan aku ialah Allah s.w.t., kemudian yang akan menshalati aku ialah Jibril a.s., kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang akhir sekali malaikat lzrail berserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk beramai-ramai bershalat ke atasku."
Begitu para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata: "Ya Rasulullah s.a.w. anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam penernuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti kepada siapakah yang akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?."
Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata: "Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam sahaja. Yang pandai bicara itu ialah AI-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada AI-Quran dan Hadis-ku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutkan dia dengan mengambil pengajaran dari mati."
Setelah Rasulullah s.a.w. berkata demikian, maka sakit Rasulullah s.a.w. bermula. Dalam bulan safar Rasulullah s.a.w. sakit selama 18 hari dan sering diziarahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa Rasulullah s.a.w. diutus pada hari Isnin dan wafat pada hari Isnin. Pada hari Isnin penyakit Rasulullah s.a.w. bertambah berat, setelah Bilal r.a. selesaikan azan subuh, maka Bilal r.a. pun pergi ke rumah Rasulullah s.a.w..
Sesampainya Bilal r.a. di rumah Rasulullah s.a.w. maka Bilal r.a. pun memberi salam: "Assalaarnualaika ya rasulullah." Lalu dijawab oleh Fatimah r.a.: "Rasulullah s.a.w. masih sibuk dengan urusan beliau." Setelah Bilal r.a. mendengar penjelasan dari Fatimah r.a. maka Bilal r.a. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah r.a. itu.
Saat waktu subuh hampir hendak pupus, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah s.a.w. dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal r.a. telah di dengar oleh Rasulullah s.a.w. dan baginda berkata; "Masuklah wahai bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan shalat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir."
Setelah mendengar kata-kata Rasulullah s.a.w. maka Bilal r.a. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata: "Aduh musibah." Begitu Bilal r.a. sampai di masjid maka Bilal r.a. pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah s.a.w. katakan kepadanya. Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan dirinya apabila ia melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar r.a. menangis sehingga ia jatuh pengsan.
Melihatkan peristiwa ini maka riuh rendah dalam masjid, sehingga Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Fatimah r.a.; "Wahai Fatimah apakah yang telah berlaku?." Maka Fatimah r.a. pun berkata: "Kekecohan kaum muslimin, sebab anda tidak pergi ke masjid." Kemudian Rasulullah s.a.w. memanggil Ali r.a. dan Fadhl bin Abas, lalu Rasulullah s.a.w. bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid.
Setelah Rasulullah s.a.w. sampai di masjid maka beliau pun bershalat subuh bersama dengan para jemaah. Setelah selesai shalat subuh maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai kaum muslimin, kamu semua sentiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah, oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan mengerjakan segala perintahNYA. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia."
Setelah berkata demikian maka Rasulullah s.a.w. pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah s.w.t. mewahyukan kepada malaikat lzrail: "Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut rohnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah lerlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masuklah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak izinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku."
Sebaik sahaja malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah s.w.t. maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di hadapan rumah Rasulullah s.a.w. maka ia pun memberi salam: "Assalaamu alaikum yaa ahia baitin nubuwwati wa ma danir risaalati a adkhulu?" ["Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?"]
Apabila Fatimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; "Wahai hamba Allah, Rasulullah s.a.w. sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat." Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah s.a.w. dan Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Falimah r.a.: "Wahai Fatimah, siapakah di depan pintu itu."
Maka Fatimah r.a. pun berkata: "Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggilmu, dan aku telah katakan kepadanya bahwa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga saya merasa mcnggigil badan saya."> Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata; "Wahai Fatimah, tahukah kamu siapakah orang itu?." Jawab Fatimah; "Tidak ayah." "Dia adalah malaikat lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur."
Fatimah r.a. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya akan berakhir, dia menangis sepuas-puasnya. Saat Rasulullah s.a.w. mendengar tangisan Falimah r.a. maka beliau pun berkata: "Janganlah kamu menangis wahai Fatimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan aku."
Kemudian Rasulullah s.a.w. pun menjemput malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap: "Assalamuaalaikum ya Rasulullah." Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab: "Wa alaikas saalamu, wahai lzrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut rohku?"
Maka berkata malaikat lzrail: "Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut rohmu, itupun kalau kamu izinkan, kalau kamu tidak izinkan maka aku akan kembali." Berkata Rasulullah s.a.w.: "Wahai lzrail, di manakah kamu tinggalkan Jibril?" Berkata lzrail: "Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, semua para malaikat sedang memuliakan dia." Tidak beberapa saat kemudian Jibril a.s. pun turun dan duduk dekat kepala Rasulullah s.a.w.
Saat Rasulullah s.a.w. melihat kedatangan Jibril a.s. maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai Jibril, tahukah kamu bahwa ajalku sudah dekat" Berkata Jibril a.s.: "Ya aku memang tahu." Rasulullah s.a.w. bertanya lagi: "Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku di sisi Allah s.w.t." Berkata Jibril a.s.: "Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat bersusun rapi menanti rohmu di langit. Kesemua pintu-pintu syurga telah dibuka, dan kesemua para bidadari sudah berhias menanti kehadiran rohmu."
Berkata Rasulullah s.a.w.: "Alhamdulillah, sekarang kamu katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti." Berkata Jibril a.s.: "Allah s.w.t. telah berfirman yang bermaksud: "Sesungguhnya aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam syurga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umatmu memasuki syurga."
Berkata Rasulullah s.a.w.: "Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai lzrail, dekatlah kamu kepadaku." Selelah itu Malaikat lzrail pun memulakan tugasnya, apabila roh nya sampai pada pusat, maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati." Jibril a.s. mengalihkan pandangan dari Rasulullah s.a.w. apabila mendengar kata-kata beliau itu.
Melihatkan telatah Jibril a.s. itu maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?" Jibril a.s. berkata: "Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu dalam sakaratul maut?" Anas bin Malik r.a. berkata: "Saat roh Rasulullah s.a.w. telah sampai di dada beliau telah bersabda: "Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga shalat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atasmu."
Ali r.a. berkata: "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan Rasulullah s.a.w. berkata: "Umatku, umatku." Telah bersabda Rasulullah s.a.w. bahwa: "Malaikat Jibril a.s. telah berkata kepadaku; "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah s.w.t. telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca selawat untukmu, kalau sesiapa yang mengambil seekor ikan dari laut tersebut maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu."
Diambil dari milis Ida-Krisna Show, sebuah program Radio Delta FM, Jakarta. Kisah ini dipostingkan di sini di hari terakhir Ramadhan 1426 H, sebagai sebuah renungan. Semoga Allah SWT melimpahi kita pahala. Dan puasa kita diterima Allah SWT.
Friday, January 7, 2011
PENYOKONG atau PENDOKONG????
Begitu ramai umat Islam di dunia pada hari ini.
Mengikut satu kajian, dinyatakan bahawa statistik bilangan umat Islam adalah yang kedua terbesar di dunia.
Begitu ramainya umat ini.
Kita juga adalah daripada kalangan itu.
Namun, berbilion umat Islam yang ramai itu, adakah seramai itu juga para pendokongnya?
Atau yang ramai itu hanya sekadar penyokong?
Kita pula, di mana kedudukan kita?
APA BEZANYA PENDOKONG DAN PENYOKONG?
Bayangkan anda berada di stadium untuk menonton satu perlawanan bola sepak. Samakah orang yang menonton dengan orang yang bermain di atas padang bola sepak itu?
Oh, sudah tentu jauh berbeza.
Penonton cuma dapat menonton, memberi sokongan, bersorak dan terjerit-jerit di luar padang. Penatkah mereka? Ya, mereka mungkin penat, tapi tidak sepenat pemain yang berlari di padang. Dapatkah penonton memberi nilai gol pada pasukan sokongan mereka? Tidak. Tidak sekali-kali.
Pemain?
Merekalah yang mendukung aspirasi pasukan mereka. Berpenat lelah di atas padang untuk mendapatkan nilai jaringan gol bagi pasukan mereka. Berlari, merancang strategi, kesatuan, penat dan lelah serta segalanya dirasai oleh mereka yang bermain. Merekalah orang yang paling gembira apabila dapat menjaringkan gol. Namun, mereka jugalah orang yang paling sedih dan muram saat tiada nilai gol untuk pasukan mereka.
Itulah bezanya.
Penyokong. Ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat mengubah apa yang berlaku di atas padang. Kerana ia bukan seorang pemain. Gol atau tidak gol bukanlah atas usaha mereka. Mereka mungkin boleh memberi komen dan mengkritik, namun mereka tidak akan pernah dapat menjiwai perasaan sebenar ketika berada di atas padang.
Pendokong, dia yang menghayati kelelahan dan segala perasaan berada di atas padang bola itu. Dia yang lebih memahami situasi dan cara bertindak. Dia mungkin akan silap ketika bermain. Namun, kesalahan itu mengajar dia supaya memperbaiki corak permainannya di masa depan.

MEREKA YANG MENDOKONG ISLAM YANG MULIA INI …
Islam itu datang dalam bentuk yang praktis. Ia dapat dilihat daripada segenap sudut kehidupan.
Ia bukan sekadar retorik atau teori kosong. Tetapi ia praktikal dalam kehidupan.
Keperibadian, cara hidup, cara berfikir, sistem ekonomi, sistem sosial, sistem politik, pentadbiran dan perundangan, sistem kekeluargaan dan bermasyarakat, semuanya itu ada contohnya dalam Islam.
Orang-orang yang bersama Rasul s.a.w., merekalah yang membawa contoh itu.
Islam itu tertonjol dalam segenap kehidupan mereka.
Kenapa? Kerana mereka adalah para pendokong Islam.

Lihatlah keperibadian-keperibadian kental yang ada bersama mereka dalam mempertahankan Islam.
Abdullah Zul Bijadain, dahulunya ketika jahiliah, namanya adalah Abd Uzza. Kenapa digelar Zul Bijadain yang membawa maksud “mempunyai dua kain kasar”? Pengorbanan yang dilakukannya itu menyebabkan dia mendapat jolokan itu. Dia mempunyai seorang bapa saudara yang sangat kaya raya. Memang sejak dari kecil, beliau hidup senang-lenang bersama ayah saudaranya.
Hatta sehingga umat Islam berhijrah ke Madinah, dia tegar untuk tinggal di Madinah selama hampir 3 tahun semata-mata untuk mengajak bapa saudaranya itu kepada Islam. Akhirnya pada suatu hari, setelah tidak berjaya memujuk bapa saudaranya itu, beliau berhajat untuk berhijrah. Bapa saudaranya telah mengugut beliau dengan katanya, “Sekiranya engkau ingin bersama Muhammad, tinggalkan semua harta yang aku pernah berikan padamu itu.”
Apa yang dilakukannya? Adakah dia takut diancam dan diugut sedemikian?
Tidak, dia menyerahkan semua harta bapa saudaranya semula termasuk pakaian yang dipakainya menyebabkan tidak ada yang tinggal pada dirinya melainkan sehelai kain kasar yang dibelah dua, untuk menutup auratnya.
Semua itu untuk apa?
ISLAM …
Suhaib Ar-Rumi pada saat ingin berhijrah, dia telah ditahan oleh kafir Quraisy. Apa yang mereka pinta? Mereka minta Suhaib meninggalkan semua hartanya di Makkah. Kata mereka, “Dulu engkau datang dengan tidak ada apa-apa, sekarang engkau mesti meninggalkan Makkah dalam keadaan tidak ada apa-apa juga.”
Kalaulah kita di posisi itu, diugut untuk tinggalkan semua kemewahan dan pangkat kedudukan kita, agaknya apa yang kita akan lakukan?
Suhaib setuju untuk tinggalkan SEMUA hartanya, bukan sebahagian, bukan juga diambil sedikit daripada hartanya itu.
Untuk apa Suhaib melakukan itu?
ISLAM …
Mus’ab bin Umair, pemuda kacak dan kaya raya. Minyak wanginya yang semerbak harum dan mahal harganya itu tidak ada siapa pun yang mampu milikinya. Mahal tak mahalnya minyak wangi beliau, siapa sahaja yang melalui lorong yang pernah dilaluinya, selepas 2 jam, pasti akan terbau lagi wangiannya itu.
Namun, ditinggalkan semua itu semata-mata untuk Islam. Bahkan, diugut pula oleh ibunya untuk tidak makan selagi beliau tidak kembali kepada agama nenek moyang mereka, namun jawapannya menyebabkan ibunya berputus asa akhirnya.
Diriwayatkan bahawa ketika dihantar sebagai utusan Rasul s.a.w. di Madinah, tidak ada satu pintu pun yang tidak diketuk oleh Mus’ab untuk menyampaikan Islam.
Bahkan, ketika syahidnya beliau, kain untuk menutup jenazahnya pula tidak mencukupi, ditutup muka nampak kaki, ditutup kaki, nampak pula muka. Berbeza sungguh dengan hayatnya sebelum Islam.
Mereka yang gigih berkorban, mendokong Islam dalam kehidupan mereka.
Mereka tidak memandang Islam sebagai persoalan remeh dan semata-mata teori. Tetapi, mereka bumikannya dalam kehidupan mereka.
KITA HARI INI SEKADAR PENYOKONG ATAU PENDOKONG ?
Kalau penyokong bola itu hanya pandai menjerit-jerit, kritik sana sini, maka yang bernama ‘penyokong’ Islam itu hanya sekadar bijak bermain teori, jauh sekali praktikal dalam hidup.
Kalau ada sekalipun, Islam itu diceduk sebahagian dan ditinggalkan sebahagian yang lain.
Menjaja nama Islam di serata cara semata-mata untuk menghalalkan tindak-tanduknya, membenarkan konsep dan ideologi-ideologi bertuhankan materialisme.
Kalau hanya sekadar penyokong, Islam itu baginya tidaklah penting. Kehidupannya untuk mencari rezeki, bekerja itu dirasakan lebih penting.
Kalau hanya sekadar penyokong, maka tidak apalah jika solat dilaksanakan, namun jauh sekali cara hidup yang bersyariatkan Islam apalagi sistem perundangan dan pentadbiran yang berasaskan nafsu dan kepentingan duniawi.
Islam dipandang terpisah daripada kehidupan. Sedangkan Islam itu adalah cara hidup yang sempurna dan menyeluruh.
Kalau hanya sekadar penyokong, maka urusan dakwah dan mendidik ummat ini, dipandang sebagai satu kejelikan, diganti pula dengan dakyah kuffar dan jahiliah yang bebas bermaharajalela menggantikan sistem tarbiyah (pendidikan) Islam sebenar.
Kalau hanya sekadar penyokong, maka tidak ada bezanya kita dengan Abdullah bin Ubai bin Salul di zaman Rasul s.a.w. Mulut lain, hatinya lain. Di Madinah, ‘pijak semut tidak mati, pijak gajah mati’, begitu baik sekali sikapnya ketika bersama masyarakat Islam.
Namun,ternyata kemunafikannya itu bilamana dia mengkhianati tentera Islam di medan perang, membawa keluar para pengikutnya dengan harapan dapat mengkucar kacirkan tentera Islam, namun Allah tetap tidak mengizinkan.

Berhentilah menjadi hanya sekadar ‘PENYOKONG’.
Ia tidak membawa apa-apa kebaikan pada kita. Tidak juga di depan Allah nanti.
Bahkan, ia bukanlah kualiti yang dikehendaki untuk membangunkan ummat ini.
Kualiti ‘PENDOKONG’ itulah yang kita hajati.
Adakah para penyokong bola sepak dapat menikmati bersama ganjaran yang dimenangi oleh pasukan sokongan mereka?
TIDAK…
Sekali-kali tidak..!
PENUTUP : TENTUKAN POSISI ANDA !
Murabbi saya, Cikgu Azmi Bahari pernah menyebut kata-kata Dr Majdi Al-Hilali yang cukup menyentuh :
“Hari demi hari, luka-luka baru menjaluri tubuh ummat sedang luka-luka semalam belum menampakkan tanda-tanda akan sembuh.”
Luka-luka yang terhasil kerana kejahilan, berpecah belah, ketidakfahaman umat Islam terhadap Islam itu sendiri.
Esok lusa, bertambah besar dan bertambah banyak luka-luka itu.
Siapa yang akan merawat luka-luka itu?
Tiada siapa lagi yang boleh diharapkan melainkan diri kita sendiri.
KITA SENDIRI…
Kita perlu menjadi PENDOKONG ISLAM !
Lalu di mana posisi kita?
Tentukan…
Adakah anda adalah jurulatih? Atau striker? Midfielder? Defender? Atau lastman? Atau gol keeper?
Itu sahaja pilihan anda…
Jangan beri peluang pada diri anda untuk memilih di antara menjadi penyokong atau pendokong, tapi pilihan yang ada buat diri kita hanyalah menjadi PENDOKONG !
Anda perlu berada di atas ‘padang’ ini bersama-sama memahami Islam yang sebenar, mengatur dan merancang strategi serta mengenal musuh jahiliah dan strateginya.
ISLAM itu praktikal yang hidup !
Kalau hanya sekadar jadi penyokong, kita telah me‘matikan’ Islam untuk terus gencar dan tersebar serta menjadi contoh di muka bumi ini!
credited to : afdholul Rahman, the writer for sharing this meaningful post (^_^)
Tuesday, December 28, 2010
Sang Katak & Lab Bio
Salamullah aleikum jami’an.
Setelah menjalani lab bio Isnin lalu, hati ini sgt terpanggil utk mengungkapkan kisah lanjut kepada semua yang bakal membaca nukilan ini. Instead of berkongsi pengalaman lab bio bersama sang katak yg kudung kakinya, yg mengundang pelbagai ragam teman2 seperjuangan, hati lebih senang utk berkongsi kisah seterusnya ini kpd kalian. Selamat mbaca..
p/s : maaf sang katak yg dikasihi atas nama makhluk Tuhan. Atas tuntutan pelajaran, terpaksaku melakukan pelbagai hal kpdmu. Terbalikkan, gantung kat retort stand, touchkan kakimu kat air panas.. Astaghfirullah.. Sungguh x sanggupku utk m“damage”kan brainmu utk hanya sekadar meng “observe” involuntary actionmu. Sungguh jasamu dikenang. Terima kasih krn byk mmberi manfaat kpd manusia..

Diriwayatkan di dalam Syi’bul Iman oleh Al Imam Baihaqi, juga di dalam tafsir Imam Qurthubi, ketika seekor katak tidak sanggup melihat Nabi Ibrahim yang pada ketika itu ingin dibakar oleh Raja Namrud, (padahal) dirinya tak mampu berbuat apa-apa kerana dia hanyalah seekor katak, maka ia hanya menaruh air di mulutnya. Berapa besarkah mulut sang katak yang berhajat untuk membantu memadamkan apinya Ibrahim? (Api menyala) lebih besar dari bukit. Akan tetapi si katak mengambil air dari sungai dan melompat-lompat dan menyemburkan air itu ke dalam api yang sedang marak itu. Logiknya, sangatlah tidak berguna perbuatan katak itu. Seperti melakukan perkara sia-sia sahaja.
Tidak akan dapat kudrat seekor katak memadamkan api, tapi Yang Maha Melihat, (tetap) melihat!! Allah Swt melihat jiwa seekor katak yang kecil yang tidak dilihat oleh makhluk lainnya. Allah SWT tahu niat daripada hamba-Nya yang kecil itu, cintanya kepada Nabiyullah Ibrahim dan niatnya menyelamatkan Nabi Ibrahim (padahal Nabi Ibrahim sudah dilindungi oleh Allah), maka Allah mengharamkan katak untuk dibunuh sampai akhir zaman. Oleh sebab perbuatan seekor katak yang sekecil itu sahaja, maka semua katak sampai akhir zaman haram dibunuh. MasyaAllah..
Bahkan diriwayatkan dalam lebih daripada 20 hadith, larangan Nabi Muhammad SAW membunuh katak sehingga para sahabat datang kepada Rasul saw mengajukan pertanyaan “ada katanya jenis ubat tapi diambil daripada katak, maka haruslah membunuh katak” dan Rasulullah SAW melarangnya. Jangan jadikan ubat-ubatan daripada katak. Mengapa? kerana katak haiwan yang dilindungi hingga akhir zaman. Mengapa? Salah satu diantara sebabnya adalah kerana katak pernah ingin menyelamatkan Nabi Ibrahim as.
Lihat Allah menghargai keinginan mulia, walaupun tidak mampu berbuat apa apa, walaupun tidak mampu merubah keadaan tetapi hal itu dihargai oleh Allah dan dilihat.
Lebih-lebih lagi orang-orang yang mencintai Sayyidina Muhammad SAW, Pemimpin Para Nabi dan Rasul. Dan orang orang yang membantu apa apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah SAW.
Perbuatannya mungkin dianggap tidak bermakna apa-apa tapi mungkin usaha itulah yang dihargai oleh Allah SWT.

Wallahua'lam bissawab..
Tuesday, December 21, 2010
Asma' Dzatun Nithaqain
usai kelas b.arab dgn Ust Lutfi semalam, rasa terpanggil utk bkongsi sirah ini bersama teman2.. (^_^).. satu pesanan drp ust. Lutfi "BERBORAK TTG HAL DUNIA SAMPAI BILA2 PUN X ABIS".. ayat yg sgt berbekas di hati. sama2 muhasabah diri ye teman2..
selamat membaca!!

Asma' binti Abu Bakar As-siddiq; saudara kepada Aisyah Ummul Mukminin (isteri Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam); puteri kepada sahabat Rasulullah yang mulia, Saidina Abu Bakar As-siddiq; isteri Zubair bin Awwam, pejuang dan tokoh Islam yang mengutamakan redha Allah di dalam perjuangannya; Merupakan seorang wanita muhajir yang mulia dan bonda kepada Abdullah bin Zubair, salah seorang pejuang yang gugur mempertahankan agamanya; dan sesungguhnya kedudukannya ini cukup untuk mengangkat darjat beliau ke tempat yang tinggi, mulia dan terpuji. Peribadinya dirahmati Allah dengan keistimewaan yang sangat menonjol, setanding dengan para Muslimin di ketika itu; cerdas, cerdik, lincah, pemurah dan berani.
Kedermawanan beliau dapat dilihat jelas melalui ucapan anaknya," Aku belum pernah melihat wanita yang sangat pemurah melebihi ibuku termasuk Aisyah Radhiallahu anha. Beliau (Aisyah) mengumpulkan apa yang diperolehinya sedikit demi sedikit, lantas setelah itu barulah dinafkahkannya kepada mereka yang memerlukannya. Sedangkan ibuku, dia tidak pernah menyimpan sedikit pun sehingga hari esok"
Kebijaksanaan Dzatun Nithaqain
Kecemerlangan berfikir Asma Radhiallahu anha terpancar dari sikapnya yang penuh prihatin dan perhitungan yang bijaksana. Peristiwa Hijrah Abu Bakar menyaksikan pengorbanan seorang sahabat demi Islam, tidak meninggalkan sesen pun harta untuk keluarganya melainkan dibelanjakan keseluruhannya untuk Allah dan rasulNya.
Ketika Abu Quhafah (ayah kepada Abu Bakar radhiallahu anhu) yang masih musyrik menemui keluarganya, beliau berkata kepada Asma',
"Demi Allah! Tentu ayahmu telah mengecewakanmu dengan hartanya, di samping akan menyusahkanmu dengan pemergiannya!".
Jawab wanita yang mulia ini, "Tidak wahai datuk! sekali-kali tidak! Beliau banyak meninggalkan wang buat kami" ujarnya sambil menghibur dan menenangkan datuknya.
Dikumpulkannya batu-batu kerikil yang kemudiannya dimasukkan ke dalam lubang tempat kebiasaannya menyimpan wang. Kemudian dibawakan datuknya yang buta itu ke tempat simpanan tersebut, lantas berkata,
"Lihatlah datukku! Beliau banyak meninggalkan wang buat kami!".
Perkataan tersebut ternyata berjaya meyakinkan Abu Quhafah. Maksud perbuatan tersebut adalah untuk menyenangkan hati datuknya, agar tidak bersusah hati memikirkan hal tersebut. Malah, Asma' juga tidak menginginkan bantuan dari orang musyrik meskipun datuknya sendiri. Inilah bukti yang menunjukkan besarnya perhatian beliau terhadap dakwah dan kepentingan kaum Muslimin.
Diberi jolokan sebagai "DZATUN NITHAQAIN" oleh Rasulullah yang membawa erti "wanita yang mempunyai dua tali pinggang", sebagai peringatan terhadap peristiwa Hijrah yang menyaksikan pengorbanan dan keberanian Asma' yang tiada tolok bandingannya. Beliau bersusah payah menyediakan bekalan makanan dan minuman buat Rasulullah dan Abu Bakar Radhiallahu anhu di saat genting seperti itu. Beliau mengoyakkan ikat pinggangnya kepada dua untuk dijadikan tali pengikat untuk mengikat bekalan makanan dan minuman tersebut, sehingga kerana peristiwa itu Rasulullah mendoakan beliau agar digantikan tali pinggang tersebut dengan yang lebih baik dan lebih indah di syurga kelak.
Tidak hanya itu pengorbanan Asma Radhiallahu anha. Peristiwa hijrah ini turut menyaksikan kekuatan berfikir dan perancangan strategi yang dimiliki oleh seorang Muslimah hasil dari aktiviti politik dan kecemerlangan berfikir yang diadun dengan ketaqwaan dan keimanan yang teguh. Asma' Radhiallahu anha bukan sekadar menjadi penghantar makanan kepada dua orang sahabat yang berperanan penting bagi umat Islam, malah beliau juga menyampaikan berita-berita penting tentang rencana-rencana pihak musuh terhadap kaum Muslimin.
Dengan kehamilannya ketika itu, Asma' mengambil peranan yang menjanjikan risiko tinggi, di mana bukan saja nyawanya menjadi taruhan, malah lebih dari itu, nyawa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam dan ayahnya turut sama terancam. Memikirkan kemarahan musuh Islam lantaran lolosnya Rasulullah dari kepungan, kafir Quraisy pastinya akan berusaha bersungguh-sungguh mencari-cari Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam untuk dibunuh kerana bencinya mereka terhadap dakwah Islam dan pejuang-pejuangnya.
Di saat-saat genting seperti itu, Asma' mampu meramal segala kemungkinan yang bakal berlaku, dan dengan kecerdikan dan penuh perhitungan, beliau berjalan menuju Gua Tsur sambil menggembala kambing-kambingnya berjalan di belakangnya. Taktik ini dilakukan untuk mengaburi mata pihak musuh kerana jejaknya terhapus oleh jejak-jejak kambing gembalaannya itu. Tindakan ini belum tentu mampu dilakukan oleh seorang lelaki yang berani sekalipun, lantaran hal tersebut bakal mengundang bahaya, kezaliman, dan kekejaman orang-orang kafir Quraisy.
Permasalahan ini tidak cukup sampai di situ. Setelah kejayaan Rasulullah dan Abu Bakar keluar dari tempat persembunyian dan berhasil berhijrah ke Madinah, Asma' Radhiallahu anha dan keluarganya didatangi beberapa orang Quraisy, di antaranya Abu Jahal yang telah bertindak kasar menampar pipi Asma’ Radhiallahu anha dengan sekali tamparan yang mengakibatkan subangnya terlepas!. Asma' menjawab dengan penuh diplomasi saat beliau ditanya tempat persembunyian Rasulullah dan ayahnya dengan berkata,
" Demi Allah, aku tidak tahu di mana ayahku berada sekarang!"
Hijrah Asma' Radhiallahu anha dan suaminya ke Madinah berlaku selang beberapa lama dari hijrah sebelumnya, di mana pada ketika itu Asma' sedang sarat mengandungkan Abdullah bin Zubair dan hanya menanti detik-detik kelahirannya. Perjalanan yang jauh dan berbahaya ditempuhi jua sehinggalah angkatan para sahabat tiba di Quba'. Kelahiran anak pasangan sahabat ini disambut dengan penuh kesyukuran dan kegembiraan. Dialah bayi pertama yang dilahirkan di Madinah.
Sebaik-baik Ummu wa Rabbatul Bait
Seorang muhajirah yang agung, antara wanita yang awal memeluk Islam, sangat memuliakan suaminya meskipun Zubair hanya seorang pemuda miskin yang tidak mampu menyediakan pembantu buatnya. Hatta tidak mempunyai harta yang dapat melapangkan kehidupan keluarganya, melainkan hanya seekor kuda yang dijaganya dengan baik. Beliaulah isteri yang sentiasa sabar dan setia berkhidmat untuk suaminya, sanggup bekerja keras merawat dan menumbuk sendiri biji kurma untuk makanan kuda suaminya di saat Zubair sibuk menjalankan tugas-tugas yang diperintah Rasulullah kepadanya.
Di dalam didikannya, keperibadian Abdullah bin Zubair dibentuk. Beliau adalah susuk seorang ibu yang sangat memahami peranannya dalam melahirkan generasi utama yang berkualiti, generasi yang menjadikan kecintaan kepada Allah dan RasulNya di atas segala-galanya, sama ada harta, isteri, keluarga mahupun segala jenis perbendaharaan dunia. Beliau mencetak keperibadian generasi yang siap berjuang membela bendera Islam dan kalimah La ilaha illallah Muhammad Rasulullah.
Keperibadian seperti ini terpancar jelas di dalam diri puteranya, Abdullah bin Zubair. Hal ini dapat kita teladani melalui kisah pertemuan terakhir di antara seorang ibu dan anak yang saling menyayangi dan mencintai satu sama lain, semata-mata kerana kecintaan keduanya kepada Allah Subhanahu wa Taala dan RasulNya.
Abdullah: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, wahai ibunda!
Asma': Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, ya Abdullah! Mengapa engkau datang ke sini di saat-saat seperti ini? Padahal batu-batu besar yang dilontarkan Hajjaj kepada tenteramu menggetarkan seluruh Kota Mekah?
Abdullah: Aku hendak bermusyawarah dengan ibu.
Asma': Tentang masalah apa?
Abdullah: Tenteraku banyak meninggalkanku. Mereka membelot dariku ke pihak musuh. Mungkin kerana mereka takut terhadap Hajjaj atau mungkin juga kerana mereka menginginkan sesuatu yang dijanjikannya sehingga anak-anak dan isteriku sendiri berpaling daripadaku. Sedikit sekali jumlah tentera yang tinggal bersamaku. Sementara utusan Bani Umayyah menawarkan kepadaku apa saja yang ku minta berupa kemewahan dunia asal saja aku bersedia meletakkan senjata dan bersumpah setia mengangkat Abdul Malik bin Marwan sebagai khalifah. Bagaimana pendapatmu wahai ibu?
Asma': Terserah kepadamu Abdullah! Bukankah engkau sendiri yang mengetahui tentang dirimu? Jika engkau yakin bahawa engkau mempertahankan yang haq dan mengajak kepada kebenaran, maka teguhkanlah pendirianmu sepertimana para perajuritmu yang telah gugur dalam mengibarkan bendera agama ini! Akan tetapi, jika engkau menginginkan kemewahan dunia, sudah tentu engkau adalah seorang anak lelakiku yang pengecut! dan bererti engkau sedang mencelakakan dirimu sendiri dan menjual murah harga kepahlawananmu selama ini, anakku!
Abdullah: Akan tetapi, aku akan terbunuh hari ini ibu.
Asma' : Itu lebih baik bagimu daripada kepalamu akan dipijak-pijak juga oleh budak-budak Bani Umayyah dengan mempermainkan janji-janji mereka yang sangat sukar untuk dipercayai!
Abdullah: Aku tidak takut mati, Ibu. Tetapi aku khuatir mereka akan mencincang dan merobek-robek jenazahku dengan kejam!
Asma': Tidak ada yang perlu ditakuti perbuatan orang hidup terhadap kita sesudah kita mati. Kambing yang sudah disembelih tidak akan merasa sakit lagi ketika kulitnya dikupas orang!
Abdullah: Semoga Ibu diberkati Allah. Maksud kedatanganku hanya untuk mendengar apa yang telah ku dengar dari ibu sebentar tadi. Allah Maha Mengetahui, aku bukanlah orang yang lemah dan terlalu hina. Dia Maha Mengetahui bahawa aku tidak akan terpengaruh oleh dunia dan segala kemewahannya. Murka Allah bagi sesiapa yang meremehkan segala yang diharamkanNya. Inilah aku, anak Ibu! Aku selalu patuh menjalani segala nasihat Ibu. Apabila tewas, janganlah ibu menangisiku. Segala urusan dari kehidupan Ibu, serahkanlah kepada Allah!
Asma': Yang ibu khuatirkan andainya engkau tewas di jalan yang sesat.
Abdullah: Percayalah Ibu! Anakmu ini tidak pernah memiliki fikiran sesat untuk berbuat keji. Anakmu ini tidak akan menyelamatkan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang-orang Muslim yang berbuat kebaikan. Anakmu ini mengutamakan keredhaan ibunya. Aku mengatakan semua ini di hadapan ibu dari hatiku yang putih bersih. Semoga Allah menanamkan kesabaran di dalam sanubari Ibu.
Asma': Alhamdulillah! segala puji bagi Allah yang telah meneguhkan hatimu dengan apa yang disukaiNya dan yang Ibu sukai pula. Rapatlah kepada Ibu wahai anakku, Ibu ingin mencium baumu dan menyentuhmu. Agaknya inilah saat terakhir untuk ibu memelukmu..."
Abdullah:Jangan bosan mendoakan aku Ibu!

“Ya Allah! Kasihanilah dia kerana solat yang panjang diselangi tangisan di tengah kedinginan malam yang sepi, ketika orang-orang lain sedang nyenyak dibuai mimpi. Ya Allah! Kasihanilah dia yang sering menahan lapar dan dahaga ketika bertugas jauh dari Madinah atau Mekah dalam menunaikan ibadah puasa kepadaMu. Ya Allah! Aku menyerahkannya di bawah pemeliharaanMu, aku redha dengan apa yang telah Engkau tetapkan bagiku dan baginya, dan berilah kami pahala orang-orang yang sabar...!"
[ Doa Asma' radhiallahu anha buat puteranya, Abdullah bin Zubair]
Sebelum matahari terbenam di petang itu, Abdullah bin Zubair syahid menemui Rabbnya. Dia kembali kerana mengutamakan redha Allah dan redha ibunya yang beriman. Diriwayatkan, bahawa Al-Hajjaj berkata kepada Asma' setelah Abdullah terbunuh :
"Bagaimanakah engkau lihat perbuatanku terhadap puteramu ?"
Asma' menjawab :"Engkau telah merosak dunianya, namun dia telah merosak akhiratmu."
Asma' wafat di Mekkah dalam usia 100 tahun, sedang giginya tetap utuh, tidak ada yang tanggal dan akalnya masih sempurna. [Mashaadirut Tarjamah : Thabaqaat Ibnu Saad, Taarikh Thabari, Al-Ishaabah dan Siirah Ibnu Hisyam]. Semoga Allah meredhai kedua hambaNya, Asma' dan puteranya.
Thursday, December 2, 2010
Umar Dan Burung Pipit
Alhamdulillah, hari ini kita masih diberi peluang oleh Rabbul Jalil utk menghela O2, mhembus CO2 beserta wap air, meneruskan proses respirasi seperti biasa. Dan semuanya percuma. PERCUMA kwn2 sekalian. PERCUMA! It’s for FREE!! Bebas kita utk mghelanya brapa byk pun.. Masih angkuhkah kita utk tidak mengucapkan kalimah semulia “Alhamdulillah”?? Sama2 muhasabah diri..
Selama ini, mgkin kita hanya mengenali Saidina Umar Al-Khattab sbg pemimpin Islam yg berani, sgt berani sehinggakan golongan kafir laknatullah pada zaman beliau hanya mmpu bisu menyembunyi lisan, hanya mmpu kaku menafi gerak otot dan hanya mampu melihat seolah2 menolak kjadian mata tatkala beliau menegakkan kebenaran Islam. Sama-sama hayati kisah ini.
Menyorot teladan para kekasih Allah...
bismillah..
Umar dikenali sbg pemimpin yg adil, menjunjung tinggi hokum Allah dan selalu menyayangi sesama makhluk bahkan terhadap haiwan sekalipun.
Dalam sebuah riwayat, setelah Umar r.a meninggal dunia, para ulama melihat beliau dalam mimpi, kemudian mereka bertanyakan keadaan Umar di alam barzakh.
Mereka berkata, “ Apa yg telah dilakukan Allah terhadapmu? ”
Umar menjawab, “ Allah telah mengampuniku. ”
Para ulama bertanya lagi’ “ Dgn apa? Dgn kedermawananmu, keadilanmu, atau dgn kezuhudan(tidak terpedaya dunia)mu? ”
Umar Al-Khattab mjawab, “ Setelah kamu semua meletakkan aku dalam kubur dan menutupku dgn debu, lalu kamu tinggalkan aku sendirian, maka masuklah padaku 2 malaikat yg menakutkan, hilang akalku dan gementar sendi-sendi tulangku kerana takut. Kemudian, kedua-dua malaikat tersebut memegang dan mendudukkanku. Mereka berdua ingin bertanya padaku, kemudian aku mendengar panggilan dari suara yang tidak ada rupanya, “ Tinggalkan hamba-Ku dan jangan kamu menakut-nakutkannya. Sesungguhnya Aku telah menyayangi dan mengampuni dosanya kerana dia telah menyayangi burung pipit (ushfur) di dunia, maka Aku menyayanginya di akhirat.” ”

Kehebatan Saidina Umar r.a ini bermula ketika beliau berjalan-jalan di kampung Madinah, kemudian beliau melihat seorang budak kecil yg ditangannya ada seekor burung pipit yg dijadikan mainan. Umar merasa hiba terhadap burung pipit itu, lalu membelinya dari budak kecil itu dan kemudian membebaskannya.
- Dipetik dari buku karangan Jamal Ma’mur Asmani, Beginikah Rasanya 7 Malam pertama Di Alam Kubur
MasyaAllah, hebatnya kasih sayang Allah, Maha Pengampunnya Allah, Maha Pemurahnya Allah.. subhanAllah, LAA ILAAHA ILLALLAH!
Ini menunjukkan bahawa umat Islam harus selalu menyayangi sesame makhluk, bahkan pada haiwan sekalipun tidak boleh menyakiti mereka.
Nabi Muhammad S.A.W bersabda:
“ Org yg menyayangi akan disayangi Zat Yg Maha Pengasih Maha Penyayang, maka sayangilah org di bumi, maka org di langit akan menyayangi kamu semua. ” ~Wallahua’lam~
Wednesday, November 24, 2010
Nabi Nuh A.S Part 5 (final)
Nabi Nuh memohon ampun kepada Tuhannya dan bertaubat kepada-Nya. Kemudian Allah SWT merahmatinya dan memerintahkannya untuk turun dari perahu dalam keadaan dipenuhi dengan keberkahan dari Allah SWT dan penjagaan-Nya:
"Nuh berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikatnya). Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, nescaya aku akan termasuk orang-orang yang rugi. " (QS. Hud: 47)
Difirmankan: "'Hai Nuh, turunlah dengan selamat dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang beriman) dari orang-orang yang bersamamu.'" (QS. Hud: 48)
Nabi Nuh turun dari perahunya dan ia melepaskan burung-burung dan binatang-binatang buas sehingga mereka menyebar ke bumi. Setelah itu, orang-orang mukmin juga turun. Nabi Nuh meletakkan dahinya ke atas tanah dan bersujud. Saat itu bumi masih basah kerana pengaruh taufan. Nabi Nuh bangkit setelah solatnya dan menggali pondasi untuk membangun tempat ibadah yang agung bagi Allah SWT. Orang-orang yang selamat menyalakan api dan duduk-duduk di sekelilingnya. Menyalakan api sebelumnya di larang di dalam perahu kerana dikhuatirkan api akan menyentuh kayu-kayunya dan membakarnya. Tak seorang pun di antara mereka yang memakan makanan yang hangat selama masa taufan.
Berlalulah hari puasa sebagai tanda syukur kepada Allah SWT. Al-Qur'an tidak lagi menceritakan kisah Nabi Nuh setelah taufan sehingga kita tidak mengetahui bagaimana peristiwa yang dialami Nabi Nuh bersama kaumnya. Yang kita ketahui atau yang perlu kita tegaskan bahawa Nabi Nuh mewasiatkan kepada putera-puteranya saat ia meninggal agar mereka hanya menyembah Allah SWT.
Pengajaran Dari Kisah Nabi Nuh A.S.Bahawasanya hubungan antara manusia yang terjalin kerana ikatan persamaan kepercayaan atau penamaan aqidah dan pendirian adalah lebih erat dan lebih berkesan drp hubungan yang terjalin kerana ikatan darah atau kelahiran. Kan'aan yang walaupun ia adalah anak kandung Nabi Nuh, oleh Allah s.w.t. dikeluarkan dari bilangan keluarga ayahnya kerana ia menganut kepercayaan dan agama berlainan dengan apa yang dianut dan didakwahkan oleh ayahnya sendiri, bahkan ia berada di pihak yang memusuhi dan menentangnya.
Maka dalam pengertian inilah dapat difahami firman Allah dalam Al- Quran yang bermaksud: "Sesungguhnya para mukmin itu adalah bersaudara."
Demikian pula hadis Rasulullah s.a.w yang bermaksud:"Tidaklah sempurna iman seseorang kecuali jika ia menyintai saudaranya yang beriman sebagaimana ia menyintai dirinya sendiri." Juga peribahasa yang berbunyi:"Adakalanya engkau memperolehi seorang saudara yang tidak dilahirkan oleh ibumu."
-tamat-